Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 3)

Juli 27, 2007 at 3:05 pm Tinggalkan komentar

BEBERAPA PERTANYAAN DAN JAWABAN

Mungkin ada diantara pembaca yang bertanya:
Bagaimanakah pendapat Anda tentang perkataan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’b dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan para jama’ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata: Inilah sebaik-baik bid’ah …dst.

Jawabannya:

Pertama: bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dengan perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta’la berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih. (Surah An-Nurr:63).

Imam Ahmad bin Hambal berkata: Tahukah Anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah? Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan akhirnya akan jadi binasa.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata:Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan:Rasulullah bersabda, tapi kalian menentangknya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar.

Kedua: Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu ‘Anhu termausk orang yang sangat menghormati firman Allah Ta’ala dan sabda RasulNya. Beliau pun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selalu berpegang teguh kepada kalamullah. Dan kisah perempuan yang berani menyanggah pernyataan beliau tentang pembatasan mahar (maskawin) dengan firman Allah yang artinya:…..sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak….4) bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tidak jadi melakukan pembatasan mahar.

Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang keshahihannya, tetapi dimaksudkan dapat menjelaskan bahwa Umar adalah seorang yang senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, tidak melanggarnya.

Oleh karena itu, tek patut bila Umar Radhiyallahu ‘Anhu menentang sabda Nabi Muhammad dan berkata tentang suatu bid’ah: Inilah sebaik-baiknya bid’ah, padahal bid’ah tersebut termasuk dalam kategori sabda Rasulullah: Setiap bid’ah adalah kesesatan.

Akan tetapi bid’ah yang dikatakan Umar, harus ditempatkan sebagai bid’ah yang tidak termasuk dalam sabda Rasulullah tersebut. Maksudnya: adalah mengumpulkan orang-orang yang mau melaksanakan shalat suat pada malam bulan Ramadhan dengan satu imam, dimana sebelumnya mereka melakukannya sendiri-sendiri.

Sedangkan shalat sunat ini sendiri sudah ada dasarnya dari Rasulullah, sebagaiman dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa: Nabi pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannya pada malam keempat, dan bersabda:

Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedangkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya. (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan berjama’ah termasuk sunnah Rasulullah. Namun disebut bid’ah oleh Umar Radhiyallahu ‘Anhu dengan pertimbangan bahwa Nabi setelah menghentikannya pada malam keempat, ada di antara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang melakukannya secara berjama’ah dengan beberapa orang saja dan ada pula yang berjama’ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul Mu’minin Umar Radhiyallahu ‘Anhu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan oleh Umar ini disebut bid’ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. akan tetapi sebenarnya bukanlah bid’ah karena pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Dengan penjelasan ini, tidak ada alasan apa pun bagi ahli bid’ah untuk menyatakan perbuatan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah.

Mungkin juga di antara pembaca ada yang bertanya: Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti: adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebajikan. Lalu bagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukan dengan sabda Nabi: Setiap bid’ah adalah kesesatan ?

Jawabnya: Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid’ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah: Sarana dihukumi menurut tujuannya. Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperinthakan; sarana untuk perbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan; sedang sarana untuk perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat.

Firman Allah Ta’ala:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (Surah Al-An’aam:108).

Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang musyrik adalah perbuatan hak dan pada tempatnya. Sebaliknya menjelek-jelekkan Rabbul ‘Alamien adalah perbuatan durjana dan tidak pada tempatnya. Namun, karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka perbuatan tersebut dilarang.

Ayat ini sengaja kami kutip, karena murupakan dalil yang menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya. Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada zaman Nabi, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seseorang membangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, maka pembangunan tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya, apabila pembangunnya bertujuan untuk pengajaran ilmu syar’i, maka pembangunannya adalah diperintahkan.

Jika ada pula yang mempertanyakan: Bagaimana jawaban Anda terhadap sabda Nabi:

Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu …

Sanna di sini artinya:membuat atau mengadakan.

Jawabnya: Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula: Setiap bid’ah adalah kesesatan, yaitu Rasulullah. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau ada yang beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya yang tidak mampu atau karena kurang jeli. Dan sama sekali tidak akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala atau sabda Rasulullah.

Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabi menyatakan Man Sanna fil Islaam, yang artinya: Barangsiapa berbuat dalam Islam, sedangkan bid’ah tidak termasuk dalam Islam; kemudian menyatakan: Sunnah hasanah, berarti: Sunnah yang baik, sedangkan bid’ah bukan yang baik. Tentu saja berbeda antara berbuat sunnah dengan mengerjakan bid’ah.

Jawaban yang lainnya, bahwa kata-kata Man Sanna bisa diartikan pula: Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah, yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata sanna tidak berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan.

Ada juga jawaban yang lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits di atas, yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkan di hadapan Rasulullah. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda:

Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu….

Dari sini, dapat dipahami bahwa arti sanna ialah: melaksanakan (mengerjakan), bukanberarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau: Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanah, yaitu: Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik, bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang, berdasarkan sabda beliau: Kullu bid’atin dhalalah.

—————————

4) Surah An-Nisaa’:20MAraji’ : Al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin)

Request: Kami Ingin Mencari Affiliasi Islam Secara Online, Bagi Yang Ingin Membantu Kami Mohon Hubungi Kami Melalui “Request Page”
Affiliasi Islamic Center Al Atsary Sawahlunto Sijunjung sementara sampai saat ini:
KisahIslam.Com, MediaMuslim.Info, ArsipMuslim.CO.NR, ArsipMoslem Blogs, Arsip Siroh Blogs, EtikaIslam Blogs, HaditsArbain, KitabTauhid Blogs
Iklan

Entry filed under: Artikel Islam, Artikel Manhaj.

Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 2) Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juli 2007
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Artikel Terbaru

Komentar Sesaat

Blog Stats

  • 9,314 hits

Feeds

RSS Abu Salma Blogs

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Media Muslim Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: