Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 2)

Juli 27, 2007 at 3:05 pm Tinggalkan komentar

SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN

Apabila masalah tadi sudah jelas dan manjadi ketetapan saudara, maka ketahuilah bahwa siapa pun yang berbuat bid’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid’ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Ta’ala yang artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu ….. Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah belum terdapat di dalamnya.

Anehnya, ada orang yang melakukan bid’ah berkenaan dengan dzat, asma’ dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla kemudian ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengagungkan Allah, untuk mensucikan Allah dan untuk menuruti firman Allah Ta’ala:

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. (Surah Al-Baqarah:22)

Aneh, bahwa orang yang melakukan bid’ah seperti ini dalam agama Allah, yang berkenaan dengan dzatNya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, mengatakan bahwa dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan Allah dan dialah yang menuruti firmanNya: Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, dan barangsiapa yang menyalahinya maka dia adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya.

Anehnya lagi, ada orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama Allah berkenaan dengan pribadi Rasulullah. Dengan perbuatannya itu mereka menganggap bahwa dirinya orang yang paling mencintai Rasulullah dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid’ah mereka.

Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan: Kamilah, yang mengagungkan Allah dan RasulNya. Padahal dengan bid’ah yang mereka perbuat itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.. (Surah Al-Hujuraat:1).

Pembaca yang budiman,

Di sini penulis mau bertanya, dan mohon -demi Allah- agar jawaban yang Anda berikan berasal dari hati nurani bukan secara emosional, jawaban yang sesuai dengan tuntutan agama Anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan).

Apa pendapat Anda terhadap mereka yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, baik yang berkenaan dengan dzat, sifat dan asma’ Allah Subhanahu wa Ta’ala atau yang berkenaan dengan pribadi Rasulullah, kemudian mengatakan:Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah ?

Apakah mereka ini yang lebih berhak disebut sebagai pengagung Allah dan Rasulullah, ataukah orang-orang yang mereka itu tidak menyimpang seujung jaripun dari syari’at Allah, yang berkata:Kami beriman kepada syari’at Allah yang dibawa Nabi, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan, kami menolah apa yang tidak ada dalam syari’at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan RasulNya atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk ajarannya ?

Siapakah, menurut Anda yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang mencintai serta mengagungkan Allah dan RasulNya ?

Jelas golongan yang kedua, yaitu mereka yang berkata: Kami mengimani dan mempercayai apa yang diberitakan kepada kami, patuh dan tunduk terhadap apa yang diperintahkan; kami menolak apa yang tidak diperintahkan, dan tak patut kami mengada-adakan dalam syari’at Allah atau melakukan bid’ah dalam agama Allah. Tak syak lagi bahwa inilah orang-orang yang tahu diri dan tahu kedudukan Khaliqnya. Merekalah yang mengagungkan Allah dan RasulNya dan merekalah yang menunjukkan kebenaran kecintaan mereka kepada Allah dan RasulNya.

Bukan golongan yang pertama, yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, dalam hal akidah, ucapan atau perbuatan. Padahal anehnya, mereka mengerti sabda Rasulullah:

Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan masuk dalam neraka.

Sabda beliau :setiap bid’ah bersifat umum dan menyeluruh, dan mereka mengetahui hal itu.

Rasulullah yang menyampaikan maklumat umum ini, tahu akan konotasi apa yang disampaikannya. Beliau adalah manusia yang paling fasih, paling tulus terhadap umatnya, tidak mengatakan kecuali apa yang dipahami maknanya. Maka ketika Nabi bersabda: Kullu bid’atin dhalalah, beliau menyadari apa yang diucapkan, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini timbul dari beliau karena beliau benar-benar tulut terhadap umatnya.

Apabila suatu perkataan memenuhi ketiga unsur ini, yaitu: diucapkan dengan penuh ketulusan, penuh kefasihan dan penuh pengertian, maka perkataan tersebut tidak mempunyai konotasi lain kecuali makna yang dikandungnya.

Dengan pernyataan umum tadi, benarkah bahwa bid’ah dapat kita bagi menjadi tiga bagian atau lima bagian?

Sama sekali tidak benar. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa bid’ah ada bid’ah hasanah, maka pendapat tersebut tidak terlepas dari dua hal:

Pertama: kemungkinan tidak termasuk bid’ah tapi dianggapnya sebagai bid’ah.

Kedua: kemungkinan termasuk bid’ah, yang tentu syyi’ah (buruk), tetapi tidak mengetahui keburukannya.

Jadi setiap perkara yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah maka jawabannya adalah demikian tadi.

Dengan demikian, tak ada jalan lain bagi ahli bid’ah untuk menhjdikan sesuatu bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah, karena kita telahmempunyai senjata ampuh dari Rasulullah yaitu:

Setiap bid’ah adalah kesesatan.

Senjata ini bukan dibuat di sembarang pabrik, melainkan datang dari Nabi dan dibuat sedemikian sempurna. Maka barangsiapa yang memegang senjata ini tidak akan dapat dilawan oleh siapapun dengan bid’ah yang dikatakannya sebagai hasanah, sementara Rasulullah telah menyatakan bahwa: Setiap bid’ah adalah kesesatanquot;.
Maraji’ : Al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin)

Request: Kami Ingin Mencari Affiliasi Islam Secara Online, Bagi Yang Ingin Membantu Kami Mohon Hubungi Kami Melalui “Request Page”
Affiliasi Islamic Center Al Atsary Sawahlunto Sijunjung sementara sampai saat ini:
KisahIslam.Com, MediaMuslim.Info, ArsipMuslim.CO.NR, ArsipMoslem Blogs, Arsip Siroh Blogs, EtikaIslam Blogs, HaditsArbain, KitabTauhid Blogs
Iklan

Entry filed under: Artikel Islam, Artikel Manhaj.

Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 1) Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juli 2007
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Artikel Terbaru

Komentar Sesaat

Blog Stats

  • 9.320 hits

Feed

RSS Abu Salma Blogs

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Media Muslim Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: