Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 1)

Juli 27, 2007 at 3:04 pm Tinggalkan komentar

ALLAH TELAH MENJELASKAN USHUL DAN FURU’ AGAMA DALAM AL QUR’ANUL KARIM

Anda tentu telah tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al Qur’an tentang ushul (pokok-pokok) dan furu’ (cabang-cabang) agama Islam. Allah telah menjelaskan tentang tauhid dengan segala macam-macamnya, sampai tentang bergaul sesama manusia seperti tatakrama pertemuan, tatacara minta izin dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. (Surah Al Mujaadalah:11).

Dan FirmanNya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembalilah!’ maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Surah An-Nuur:27-28).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan pula kepada kita dalam Al Qur’an tentang cara berpakaian. FirmanNya:

Dan perempuan-perampuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi) tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka1) dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. (Surah An-Nuur:60).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anka-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya2) ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kaena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah Al-Ahzaab:59)

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (Surah An-Nuur:31).

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah dari belakangnya3), akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa, dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya. (Surah Al-Baqarah:189).

Dan masih banyak lagi ayat seperti ini, yang dengan demikian jelaslah bahwa Islam adalah sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, tidak perlu ditambahi dan tidak boleh dikurangi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Al- Qur’an:

Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. (Surah An-Nahl:89).

Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang menyangkut masalah kehidupan di akhirat maupun masalah kehidupan di dunia, kecuali telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an secara tegas atau dengan isyarat, secara tersurat maupun tersirat.

Adapun firman Allah Ta’ala:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-kitab. Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Surah Al-An’aam:38).

Ada yang menafsirkan al-kitab disini adalah Al-Qur’an. Padahal yang dimaksud yaitu Lauh Mahfuzh. Karena apa yang dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Al-Qur’an dalam firmanNya: Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, lebih tegas dan lebih jelas daripada yang dinyatakan dalam firmanNya: Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-kitab.

Mungkin ada orang yang bertanya:Adakah ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan jumlah shalat lima waktu berikut bilangan raka’at tiap-tiap shalat? Bagaimanakah dengan firman Allah yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan segala sesuatu, padahal kita tidak menemukan ayat yang menjelaskan bilangan raka’at tiap-tiap shalat?

Jawabnya: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasanya kita diwajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan ditunjukkan oleh Rasulullah. Hal ini berdasarkan atas firman Allah Ta’ala:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (Surah An-Nisaa’:80).

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (Surah Al-Hasyr:7).

Maka segala sesuatu yang telah dijelaskan oleh sunnah Rasulullah, sesungguhnya Al-Qur’an telah menunjukkannya pula. Karena sunnah termasuk juga wahyu yang diturunkan dan diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah. Sebagaimana disebutkan dalam firmanNya:

Dan Allah telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-hikmah (As-Sunnah) kepadamu. (Surah An-Nisaa’:113).

Dengan demikian, apa yang disebutkan dalam sunnah maka sebenarnya telah disebutkan pula dalam Al-Qur’an.
RASULULLAH TELAH MENJELASKAN PULA SELURUH AGAMA

Pembaca yang budiman,

Apabila saudara telah mengakui dan meyakini akan hal-hal di atas, maka apakah masih ada sesuatu hal tentang agama yang dapat mendekatkan kepada Allah belum dijelaskan oleh Nabi sampai beliau wafat?

Tentu tidak. Nabi telah menerangkan segala sesuatu berkenaan dengan agama, baik melalui perkataan, perbuatan atau persetujuan beliau. Beliau telah menerangkannya langsung dari inisiatif beliau, atau sebagai jawaban atas pertanyaa. Kadangkala, dengan kehendak Allah, ada seorang Badui datang kepada Rasulullah untuk bertanya tentang sesuatu masalah dalam agama, sementara para sahabat yang selalu menyertai Rasulullah tidak menanyakan hal tersebut. Karena itu para sahabat merasa senang apabila ada seorang Badui datang untuk bertanya kepada Nabi.

Sebagai bukti bahwa Nabi telah menjelaskan segala apa yang diperlukan manusia dalam ibadah, mu’amalah dan kehidupan mereka, yaitu firman Allah Ta’ala:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Surah Al-Maa’idah:3).

——————————-

1) Maksudnya: pakaian luar, yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat.
2) Jilbab sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.
3) Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji mereka memasuki rumahnya dari belakang, bukan dari depan. Hal ini ditanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka turunlah ayat ini sebagai penjelasan.Maraji’: Al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin)

Request: Kami Ingin Mencari Affiliasi Islam Secara Online, Bagi Yang Ingin Membantu Kami Mohon Hubungi Kami Melalui “Request Page”
Affiliasi Islamic Center Al Atsary Sawahlunto Sijunjung sementara sampai saat ini:
KisahIslam.Com, MediaMuslim.Info, ArsipMuslim.CO.NR, ArsipMoslem Blogs, Arsip Siroh Blogs, EtikaIslam Blogs, HaditsArbain, KitabTauhid Blogs
Iklan

Entry filed under: Artikel Islam, Artikel Manhaj.

Hukum Meriwayatkan Hadits-Hadits Dhaif Untuk Fadhailul A’mal, Targhib dan Tarhib Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah (bag 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juli 2007
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Artikel Terbaru

Komentar Sesaat

Blog Stats

  • 9.320 hits

Feed

RSS Abu Salma Blogs

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Media Muslim Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: